• Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf di Indonesia.

  • Sekretariat:
    Departemen Neurologi FKUI/
    RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

    Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta 10430, Indonesia
    Telp. +62 21 31903219    Fax. +62 21 2305856
    Phone: 081380651980
    Email: neurona.perdossi@gmail.com

  • Pilih Edisi
    PETUNJUK PENULIS PENGAJUAN ARTIKEL SURAT KOMITMEN SURAT TIDAK PLAGIAT

    Silahkan unduh kelengkapan pengiriman artikel tersebut dan kirimkan kembali ke email redaksi setelah diisi.

Vol 27 No. 3 April 2010


POLA GANGGUAN FUNGSI ORGAN DAN FUNGSI KOGNITIF PADA USIA LANJUT
Taufik Mesiano*, Samino*

 PENDAHULUAN

Dengan meningkatnya usia harapan hidup manusia di dunia terutama negara Indonesia, akan menambah jumlah penduduk dengan usia di atas 60 tahun atau yang lebih sering kita kenal sebagai warga senior (lanjut usia). Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan mengalami kenaikan jumlah warga senior menjadi 17,2 juta orang yang akan semakin meningkat hingga pada tahun 2020 akan terdapat 29 juta orang warga senior (BPS Profil Kesehatan Indonesia, DEPKES RI). Dan tidak sedikit dari jumlah tersebut akan mengalami hendaya dalam kehidupan sehari-harinya, dari mulai aktifitas pribadi hingga aktifitas yang berhubungan dengan masyarakat luas.
Keberadaan warga senior ini di satu sisi menunjukkan adanya perbaikan sistem kesehatan di Indonesia. Namun begitu, keadaan tersebut juga dapat mempengaruhi pola penyakit di negara kita yang bergeser ke pola penyakit degeneratif atau penurunan fungsi berbagai organ seperti penglihatan, pendengaran, pencernaan, sistem perkemihan, sistim kardiovaskular, dan juga kemunduran fungsi kognitif otak. Kemunduran fungsi kognitif otak dapat menimbulkan kelainan berupa kepikunan. Hingga saat ini, masalah kepikunan menurut kebanyakan pandangan masyarakat kita masih dianggap sebagai hal yang biasa saja dialami oleh warga senior. Pandangan inilah yang harus kita luruskan, karena kepikunan (demensia) juga dapat berarti terdapat suatu proses penyakit pada otak manusia yang memiliki faktor risiko yang dapat dicegah.
Pada akhir tahun ini, dunia dikejutkan dengan adanya peningkatan jumlah penderita demensia diseluruh dunia menjadi sekitar 24 juta orang. Jumlah tersebut terus meningkat ( kasus demensia baru per tujuh detik ), jadi kita akan menghadapi sekitar 80 juta lebih orang dengan demensia pada tahun 2040 di dunia. (The Lancet) Dan pada studi tersebut menyatakan bahwa kebanyakan orang dengan demensia banyak yang hidup di Negara-negara yang sedang berkembang: sekitar 60 % pada tahun 2001 dan meningkat hingga 71 % pada tahun 2040. Dan diperkirakan akan terdapat peningkatan rata-rata menjadi tiga hingga empat kali lebih tinggi pada negara berkembang dibanding negara yang telah maju.
Oleh karenanya deteksi dini gangguan fungsi organ khususnya fungsi kognitif otak sangatlah penting karena sifatnya yang degeneratif sehingga terjadi kemunduran yang semakin berat seiring bertambahnya umur.

Taufik Mesiano*, Samino*

Asosiasi Alzheimer Indonesia ( AAzI )


Download Article