• Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf di Indonesia.

  • Sekretariat:
    Departemen Neurologi FKUI/
    RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

    Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta 10430, Indonesia
    Telp. +62 21 31903219    Fax. +62 21 2305856
    Phone: 081380651980
    Email: neurona.perdossi@gmail.com

  • Pilih Edisi
    PETUNJUK PENULIS PENGAJUAN ARTIKEL SURAT KOMITMEN SURAT TIDAK PLAGIAT

    Silahkan unduh kelengkapan pengiriman artikel tersebut dan kirimkan kembali ke email redaksi setelah diisi.

Vol 27 No. 3 April 2010


PERANAN DEPRIVASI TIDUR TERHADAP PEREKAMAN EEG PADA PASIEN TERSANGKA EPILEPSI
Radya Nurhamida Thayeb*, Nizar Yamanie**, Fitri Octaviana*, Joedo Prihartono**

ABSTRACT

Introduction: EEG is an essential investigative tool for use in people with epilepsy, and up until now still remains central in the diagnosis and classification of epilepsies. The yield of interictal epileptiform discharges (IEDs) can be increased by many activation methods, among them is sleep deprivation.

Aim: To determine the important effects of different EEG protocols on the yield of interictal epileptiform discharges in people with possible new epilepsy.

Methods: A randomized controlled study was conducted. The population target was all possible new epilepsy patients in the outpatient clinic of dr. Cipto Mangunkusumo Hospital in Jakarta. 44 patients underwent either a non- sleep deprived (NSD) EEG or a sleep deprived (SD) one.

Results: Out of 44 possible new epilepsy patients who demonstrated interictal epileptiform discharges SD EEG provoked abnormalities in 77,3% while NSD EEG produced 50% . Within the two groups, the most clinical characteristics are with partial seizure type with onset of seizure < 25 years of age, and seizure frequency more than once a month. SD EEG have the yield of interictal epileptiform discharges 3.67 (95% CI = 0.92-14.66) with p = 0.066 and onset of seizure < 25 years of age has RR = 4.42 (95% CI = 1.07-16.86)with p = 0.040.

Conclusion: Sleep deprivation increases the yield of interictal epileptiform discharges. The age of onset < 25 years also increases the yield of IEDs with or without SD EEG.

Keywords: EEG, possible epilepsy, sleep deprivation

ABSTRAK

Pendahuluan: EEG merupakan alat penunjang diagnostik yang utama pada epilepsi. Peranan EEG dalam membantu menegakkan diagnosis dan menentukan klasifikasi epilepsi sangatlah penting. Terdapat banyak metode aktivasi untuk meningkatkan kemungkinan munculnya aktivitas epileptiform interiktal pada perekaman EEG, salah satunya adalah dengan deprivasi tidur.

Tujuan: Mengetahui peranan deprivasi tidur terhadap kemungkinan timbulnya aktivitas epileptiform pada pasien tersangka epilepsi.

Metode: Uji klinis acak. Populasi adalah pasien tersangka epilepsi yang berobat jalan di Poliklinik Epilepsi dan Sub Bagian EEG RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dilakukan salah satu perekaman EEG tanpa deprivasi tidur atau EEG dengan deprivasi tidur pada 44 pasien tersangka epilepsi.

Hasil: Persentase munculnya aktivitas epileptiform pada pasien tersangka epilepsi dengan metode perekaman EEG tanpa deprivasi tidur adalah 50% dan sebesar 77.3% positif pada perekaman EEG dengan deprivasi tidur. Pada kedua kelompok (EEG tanpa dan dengan deprivasi tidur) dengan aktivitas epileptiform positif didapatkan terbanyak adalah jenis bangkitan parsial berkembang menjadi bangkitan umum sekunder (31.8% dan 68.2%), usia awal bangkitan < 25 tahun (27.3% dan 54.5%) dan frekuensi bangkitan lebih dari satu kali dalam sebulan (40.9% dan 59.1%). EEG dengan deprivasi tidur mempunyai probabiltas mencetuskan timbulnya aktivitas epileptiform sebesar 3.67 (95% CI = 0.92-14.66) dengan nilai p = 0.066 dan pada usia awal bangkitan < 25 tahun didapatkan RR = 4.42 (95% CI = 1.07-16.86) dengan nilai p = 0.040.

Kesimpulan: Didapatkan EEG dengan deprivasi tidur mempunyai kemungkinan mencetuskan timbulnya aktivitas epileptiform lebih tinggi dibandingkan dengan EEG tanpa deprivasi tidur dan usia awal bangkitan < 25 tahun mempunyai kemungkinan cukup tinggi tanpa ataupun dengan deprivasi tidur untuk mencetuskan timbulnya aktivitas epileptiform.

Kata Kunci: Deprivasi tidur,EEG, tersangka epilepsi

----------------------------------------------------------------------------
*Departemen Ilmu Penyakit Saraf FKUniversitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, **Departemen Ilmu Kedokteran KomunitasFKUniversitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta


Download Article