• Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf di Indonesia.

  • Sekretariat:
    Departemen Neurologi FKUI/
    RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

    Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta 10430, Indonesia
    Telp. +62 21 31903219    Fax. +62 21 2305856
    Phone: 081380651980
    Email: neurona.perdossi@gmail.com

  • Pilih Edisi
    PETUNJUK PENULIS PENGAJUAN ARTIKEL SURAT KOMITMEN SURAT TIDAK PLAGIAT

    Silahkan unduh kelengkapan pengiriman artikel tersebut dan kirimkan kembali ke email redaksi setelah diisi.

Vol 27 No. 2 Januari 2010


GAMBARAN PERUBAHAN KLINIS DAN RADIOLOGI PASIEN AIDS DENGAN ENSEFALITIS TOKSOPLASMA PASCA TERAPI EMPIRIS
Ahmad Yanuar*, Darma Imran*, Melita**, Joedo Prihartono***

ABSTRACT

Introduction: In patients with the acquired immunodeficiency syndrome(AIDS), toxoplasmic encephalitis (TE) is usually a presumptive diagnosisbased on the clinical manifestations, and a focal lesion on neuroradiologic imaging. A responseto specific therapy helps to confirm the diagnosis, but it isunclear how rapid the response in Indonesia. We prospectively studied the courseof patients treated for acute TE and evaluatedclinical and radiologic criteria for this empirical diagnosis.
Methods: A clinical neurological assessment and brain MRI with contrast agent were used prospectivelyto evaluate the clinical and radiological outcome of AIDS patients with TE who were treated with oral clindamycin (600mgfour times a day) and pyrimethamine (75mg every day) for twoweeks.
Results: Eight-teen of 27 patients (66.7%) responded clinically totherapy, the response include improvement of headache as measured by visual analog scale, mental status, and extremity weakness. Seven-teen of 27 patients (63%) responded radiologically to therapy, the improvement include decreasing in the number and diameter of lesion and also thinning of the lesion wall. The corellation between clinical and radiological response was showed by the kappa value of 0,43.
Conclusions: Oral clindamycin and pyrimethamine are effectivetreatment for TE. The improvement of headache, altered mental status and extremity weakness can be used clinically to evaluate the result of therapy. The decrease in the number and diameter of lesion and also thinning of the lesion wall can be used radiologically to evaluate the result of therapy. There was a moderate agrement between clinical and radiological improvement by two weeks of evaluation.
Keywords: AIDS, empirical therapy, toxoplasma enchephalitis.


ABSTRAK
Pendahuluan: Pada Pasien sindrom imunitas menurun didapat (AIDS), diagnosis ensefalitis toksoplasma (ET) biasanya ditegakan secara presumptif didasarkan manifestasi klinis dan adanya lesi fokal pada gambaran neuroimaging. Keberhasilan terapi spesifik membantu mengkonfirmasi diagnosis, namun belum jelas seberapa besar angka keberhasilan terapi di Indonesia. Penelitian ini bersifat prospektif mengevaluasi tingkat keberhasilan pasien-pasien yang mendapat terapi empiris ET secara klinis dan radiologi.
Metode: Dilakukan pemeriksaan klinis neurologis serta MRI otak dengan kontras pada pasien-pasien yang mendapat terapi empiris ET dan dilakukan evaluasi dalam 2 minggu. Terapi empiris tersebut berupa pemberian klindamisin 4 x 600mg dan pririmetamin 1 x 75 m selama 2 minggu.
Hasil: keberhasilan terapi secara klinis didapatkan pada 18 dari 27 pasien (66,7%). Keberhasilan terapi ini meliputi penurunan derajat sakit kepala yang diukur dengan Visual Analog Scale (VAS), perbaikan kesadaran yang diukur dengan Glasgow Coma Scale (GCS), dan perbaikan kekuatan motorik. Perbaikan radiologis dijumpai pada 17 dari 27 pasien (63%) perbaikan radiologis ini meliputi berkurangnya diameter lesi dan jumlah lesi serta penipisan dinding lesi. Korelasi antara perbaikan klinis dan radiologis ditunjukan dala nilai kappa 0,43.
Kesimpulan: Klindamisin dan pirimetamin oral efektif digunakan dalam terapi empiris ET. Berkurangnya sakit kepala, perbaikan kesadaran dan perbaikan kekuatan motorik dapat digunakan secara klinis untuk mengevaluasi keberhasilan terapi empiris ET. Berkurangnya diameter lesi, jumlah lesi dan penipisan dinding lesi dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan terapi empiris ET. Terdapat kesepahaman yang sedang antara perbaikan klinis dan radiologis pada evaluasi 2 minggu pasca terapi empiris ET.
Kata kunci: AIDS, ensefalitis toksoplasma, terapi empiris.


-------------------------------------------------------------------------------------------
*Departemen Neurologi FK Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, **Departemen Radiologi FK Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ***Departemen Komunitas FK Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

 


Download Article


Vol 27 No. 2 Januari 2010


  Terakreditasi DIKTI Nomor: 12/M/Kp/II/15

 

Terindeks di



Statistik Pengunjung
Visitors today 0
Page views today 0
Total visitors 0
Total page views 0
Flag Counter Powered by Google Analytics