• Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf di Indonesia.

  • Sekretariat:
    Departemen Neurologi FKUI/
    RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

    Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta 10430, Indonesia
    Telp. +62 21 31903219    Fax. +62 21 2305856
    Phone: 081380651980
    Email: neurona.perdossi@gmail.com

  • Pilih Edisi
    PETUNJUK PENULIS PENGAJUAN ARTIKEL SURAT KOMITMEN SURAT TIDAK PLAGIAT

    Silahkan unduh kelengkapan pengiriman artikel tersebut dan kirimkan kembali ke email redaksi setelah diisi.

Vol 30 No. 3 Juni 2013


MIOSITIS BADAN INKLUSI
Sri Yenni Trisnawati, Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha, IGusti Ngurah Purna Putra

INCLUSION BODY MYOSITIS

ABSTRACT

Introduction : Inclusion body myositis (IBM) was part of the inflammatory myopathies (IM) which the annual incidence of around 2-10 new cases per 1 million people. IBM was a progresive inflamatory disease of the muscle with an unknown cause. From clinical appearance, it was difficult to differentiatefrom other IM disease such as polymyositis (PM) and dermatomyositis (DM) until muscle biopsy is necessary as a gold standard diagnostic method. IBM has to be differentiated from PM and DM because IBM has no response towards steroid, immunosuppressant, and immunomodulatory.

Case Report : A 45 years old female patient with the chief complain of slowly weakness on both arms and legs, which has worsened for the past 2 months before admission to the hospital. From neurologic examination, hyporeflex, hypotrophy, and tetraparesis flaccid with different grade was found.There was increase in creatine kinase enzyme (13.920 mg/dL). Electroneuromyography(ENMG) examination showed myopathy lession. Biopsy of gastrocnemius muscle showed an appearance of inclusion body myositis. Treatment of steroid did not produce a good response.

Discussion : The clinical hallmark of IM was the gradual onset over weeks to months of symmetrical proximal muscle weakness with specific appearance on EMG are (1) spontaneous fibrillation upon resting and during insertion of needle, (2) short duration, polyphasic unit motor potential, and small amplitude with muscle contraction, (3) stopping of weird high frequency spontaneously.In IBM, CK serum concentration is increased and from muscle biopsy, rimmed vacuole in the myosit with basophilic granul at its edges are found. IBM did not show a good respond towards steroid, immunosuppressant, dan immunomodulatory.

Conclusion : We have reported an IBM case on a 45 years old female who did not respond well towards steroid.

Keywords : Inclusion body myositis, polimyositis, dermatomyositis

ABSTRAK

Pendahuluan : Miositis badan inklusi (MBI) merupakan bagian dari inflammatory myopathies (IM) dengan insiden pertahunnya sekitar 2-10 kasus baru per satu juta orang. MBI adalah penyakit inflamasi pada otot yang bersifat progresif dengan penyebab yang tidak diketahui. Dari gejala klinis sulit dibedakan dengan penyakit IM yang lain seperti polimiositis (PM) dan dermatomiositis(DM) sehingga diperlukan biopsi otot sebagai standar baku diagnostik. MBI harus dibedakan dengan PM dan DM karena MBI tidak memiliki respons terhadap steroid, imunosupresan, dan imunomodulator.

Ilustri Kasus : seorang wanita usia 45 tahun dengan keluhan utama lemah pada kedua lengan dan kedua tungkai yang dirasakan perlahan dan makin memberat sejak 2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan klinis neurologis didapatkan hiporefleksi, hipotrofi, dan tetraparesis flaksid dengan derajat yang berbeda. Terdapat peningkatan enzimkreatin kinase(13.920 mg/dL). Elektroneuromiografi (ENMG) memberikan gambaran lesi miopati. Pemeriksaan biopsi otot gastroknemius didapatkan gambaran miositis badan inklusi. Pengobatan dengan steroid tidak didapatkan respon yang baik.

Pembahasan : IM memiliki manifestasi klinis berupa kelemahan otot proksimal dan simetris yang memberat dari minggu hingga beberapa bulan dengan gambaran EMG berupa (1) terdapat fibrilasi spontan pada saat istirahat dan saat menusukkan jarum, (2) durasi yang pendek, potensial unit motor polifasik, amplitudo kecil dengan kontraksi otot, (3) penghentian frekuensi tinggi yang aneh secara spontan. Serum KK meningkat pada beberapa kasus MBI dan biopsi otot tampak rimmed vacuole di dalam miosit dengan granul basofilik pada bagian tepinya. MBI tidak memperlihatkan respon yang baik terhadap steroid, imunosupresan, dan imunomodulator.

Kesimpulan : Telah dilaporkan sebuah kasus MBI pada seorang wanita berusia 45 tahun yang tidak berespons baik dengan steroid.

Kata Kunci : Miositis badan inklusi, polimiositis, dermatomiositis


Download Article


Vol 30 No. 3 Juni 2013


  Terakreditasi DIKTI Nomor: 12/M/Kp/II/15

 

Terindeks di



Statistik Pengunjung
Visitors today 0
Page views today 0
Total visitors 0
Total page views 0
Flag Counter Powered by Google Analytics