• Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf di Indonesia.

  • Sekretariat:
    Departemen Neurologi FKUI/
    RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

    Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta 10430, Indonesia
    Telp. +62 21 31903219    Fax. +62 21 2305856
    Phone: 081380651980
    Email: neurona.perdossi@gmail.com

  • Pilih Edisi
    PETUNJUK PENULIS PENGAJUAN ARTIKEL SURAT KOMITMEN SURAT TIDAK PLAGIAT

    Silahkan unduh kelengkapan pengiriman artikel tersebut dan kirimkan kembali ke email redaksi setelah diisi.

Vol 30 No. 3 Juni 2013


PERANAN MAGNESIUM PADA EPILEPSI
I Wayan Widyantara, Anna Marita Gelgel Sinardja

THE ROLE OF MAGNESIUM IN EPILEPSY

ABSTRACT

The therapeutic aspect of epilepsy is growing from the beginning by giving bromide as the first-line therapy to the latest generation of antiepileptic drugs. The principle management of epilepsy is to achieve a high therapeutic plasma concentrations with minimal toxicity. Magnesium is an endogenous NMDA (N-methyl D-aspartate) receptor antagonist, that is required to perform its normal function. The use of magnesium as anticonvulsants have long been used primarily to prevent seizures in patients with eclampsia which is mainly used the form of magnesium sulfate. Initialy, magnesium has been thought to work at peripheral level as anticonvulsants, but during the time, the research evolving, magnesium then discovered has been worked as a central anticonvulsants. Mechanism of action of magnesium as it known is to work as a calcium channel antagonist post-synaptic NMDA receptors. Currently, magnesium also has involved in the inhibition of pre-synaptic electric spark. Other forms of magnesium that can be used as an anticonvulsants is magnesium oxide (MgO). Giving magnesium oxide (MgO) for 4 weeks in healthy mice appeared to have a protective effect againts MES (maximal electric shock). The high dose of MgO increased the activity of phenytoin and carbamazepine. However, studies that prove the efficacy of magnesium oxide is mostly done on animals which then need further research in humans.

Keyword : Anticonvulsants, epilepsy, magnesium

ABSTRAK

Aspek terapi epilepsi semakin berkembang mulai dari awalnya dengan pemberian bromida sebagai terapi lini pertama sampai pada obat antiepilepsi generasi terbaru. Prinsip penanganan epilepsi dengan medikamentosa adalah pencapaian konsentrasi plasma terapeutik yang tinggi dengan toksisitas minimal. Magnesium merupakan antagonis reseptor NMDA (N-Methyl D-Aspartate) endogen, yang diperlukan untuk melakukan fungsi normal. Penggunaan magnesium sebagai antikonvulsan sudah sejak lama digunakan terutama untuk mencegah kejang pada pasien eklamsia. Penanganan eklamsia ini terutama menggunakan magnesium dalam bentuk magnesium sulfat. Awalnya diduga magnesium bekerja di tingkat perifer sebagai antikonvulsan, namun seiring berkembangnya penelitian diketahui bahwa magnesium juga bekerja sebagai antikonvulsan sentral. Mekanisme kerja magnesium seperti diketahui bekerja sebagai antagonis saluran kalsium pada reseptor NMDA pascasinaps. Sekarang magnesium juga diduga terlibat pada penghambatan cetusan listrik pada presinaps. Bentuk magnesium lain yang dapat digunakan sebagai antikonvulsan adalah magnesium oksida (MgO). Pemberian magnesium oksida (MgO) selama 4 minggu pada tikus sehat terlihat memiliki efek proteksi terhadap maximal electric shock (MES). Dosis tinggi MgO meningkatkan aktivitas fenitoin dan karbamazepin.

Kata Kunci : Antikonvulsan, epilepsi, magnesium


Download Article


Vol 30 No. 3 Juni 2013


  Terakreditasi DIKTI Nomor: 12/M/Kp/II/15

 

Terindeks di



Statistik Pengunjung
Visitors today 0
Page views today 0
Total visitors 0
Total page views 0
Flag Counter Powered by Google Analytics