• Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf di Indonesia.

  • Sekretariat:
    Departemen Neurologi FKUI/
    RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

    Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta 10430, Indonesia
    Telp. +62 21 31903219    Fax. +62 21 2305856
    Phone: 081380651980
    Email: neurona.perdossi@gmail.com

  • Pilih Edisi
    PETUNJUK PENULIS PENGAJUAN ARTIKEL SURAT KOMITMEN SURAT TIDAK PLAGIAT

    Silahkan unduh kelengkapan pengiriman artikel tersebut dan kirimkan kembali ke email redaksi setelah diisi.

Vol 29 No. 4 Agustus 2012


POLA MIKROBA, SENSITIVITAS ANTIBIOTIK, DAN KELUARAN JANGKA PENDEK ABSES SEREBRI DI RSUPN CIPTO MANGUNKUSUMO
Donna Octaviani, Nurul Komari, Riwanti Estiasari, Darma Imran, Ratna D. Restuti, Yeva Rosana, M. Saekhu

MICROBIOLOGICAL PATTERN, ANTIBIOTIC SENSITIVITY, AND SHORT TERM OUTPUT OF CEREBRAL ABSCESS AT RSUPN CIPTO MANGUNKUSUMO

ABSTRACT

Introduction : In general, the management of cerebral abscess is combination of antibiotics and operative. Empirical therapy of antibiotics need epidemiology data of the most common cerebral abscess microbes. Isolation technic improvement has facilitated the identification of microbes easily to increase the recovery rate and to decrease the mortality rate.

Aim : To know the microbiological pattern, antibiotics sensitivity and cerebral abscess short-term outcome of HIV-negative patients.

Method : A retrospective study of HIV-negative patients with cerebral abscesses in RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) during August 2010-August 2011. Besides death or survived, KPS (Kanofsky Performance Scale) was used to determine patients outcome.

Result : From 11 collected cases, 5 cases underwent surgery and the etiologic agent can be identified, one case of post operative, and one case from brain biopsy. Nine of the 10 cases got a combination of ceftriaxon and metronidazol with the output 6 were survived and 3 were died. One patient with otogenic cerebral abscess who got single meropenem treatment was died, whereas patients with tuberculosis cerebral abscess got antituberculosis therapy (OAT) and still survived. Of the 11 patients, four (36.4%) died (3 otogenic, post operative), one was loss to follow-up, six survived with outcome 3 months post admission KPS 70-100.

Conclusions : The most common microbe of cerebral abscess in HIV-negative patients at RSCM is Pseudomonas sp. and Streptococcus (pyogenic). Third-generation cephalosporin (ceftriaxon) is still sensitive to most of these patients. The combination of ceftriaxon and metronidazol are still a good preference of antibiotics for bacterial cerebral abscess which provide good outcome..

Keywords : Antibiotic sensitivity, cerebral abscess, HIV-negative, microbiological pattern, short-term outcome.

ABSTRAK

Pendahuluan : Tatalaksana abses serebri merupakan kombinasi pemberian antibiotik dan tindakan operatif. Pemberian antibiotika secara empiris memerlukan data epidemiologi tentang pola mikroba penyebab abses serebri. Kemajuan teknik isolasi memudahkan identifikasi organisme penyebab secara cepat, sehingga berperan meningkatkan rerata kesembuhan dan menurunkan mortalitas secara nyata.

Tujuan : Untuk mengetahui pola mikroba penyebab, sensitivitas antibiotik serta keluaran jangka pendek abses serebri pada pasien HIV negatif.

Metode : Studi retrospektif pola kuman dan antibiotik yang digunakan pada pasien abses serebri dengan HIV negatif yang dirawat di RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak Agustus 2010-Agustus 2011. Penilaian keluaran adalah kematian atau bertahan (hidup) serta Kanofsky Performance Scale (KPS).

Hasil : Didapatkan 11 kasus abses serebri, 5 menjalani pembedahan dan dapat diketahui kuman penyebabnya, 1 kasus abses pascatindakan operatif, serta satu kasus dari biopsi abses otak. Antibiotik pada 9 dari 10 kasus berupa kombinasi seftriakson dan metronidazol dengan keluaran 6 kasus bertahan dan 3 meninggal. Satu pasien dengan abses serebri otogenik mendapatkan terapi tunggal meropenem meninggal, sedangkan 1 dengan abses serebri tuberkulosis mendapatkan terapi obat antituberkulosis (OAT) dan masih bertahan. Dari 11 pasien, 4 orang meninggal, 1 orang hilang dari pemantauan, dan 6 orang masih hidup dengan KPS 3 bulan pascaperawatan 70-100.

Kesimpulan : Mikroba penyebab abses serebri HIV negatif tersering di RSCM adalah Pseudomonas sp. dan Streptococcus (piogenik). Antibiotika sefalosporin generasi III (seftriakson) masih sensitif untuk sebagian besar pasien. Kombinasi seftriakson dan metronindazol masih layak menjadi pilihan antibiotik pada abses serebri bakterial, dengan memberikan keluaran yang baik pada pasien.

Kata Kunci : Abses serebri, HIV negatif, keluaran jangka pendek, pola mikrobiologi, sensitivitas antibiotik.


Download Article


Vol 29 No. 4 Agustus 2012


  Terakreditasi DIKTI Nomor: 12/M/Kp/II/15

 

Terindeks di



Statistik Pengunjung
Visitors today 0
Page views today 0
Total visitors 0
Total page views 0
Flag Counter Powered by Google Analytics